• Abhiseka Raja Majapahit abad-21 dalam acara penyatuan Jawa-Bali simbol Nusantara
  • Mahkota Majapahit dikembalikan Dunia, Way Cing Lee mewakili leluhur Predana Majapahit menyematkan pada Sang Nata yang berhak, peristiwa abad-21 di Keraton Ibu Majapahit Brahmaraja XI
  • Mengurusi Keluarga Besar Majapahit Nusantara dan ketua-9 atas Amanat dari sesepuh
  • Mahkota Brahma disematkan oleh peladen bangsa dari Istana Mangkunegaran untuk terus menciptakan perubahan jaman sesuai ramalan leluhur
  • Hubungan dengan Pura Mangkunegaran terjalin baik bahkan menerima pucuk tumpeng Istimewa dari KGPAA Mangkunegaran IX disaksikan seluruh kawula dan FKSN
  • Tanpa surat sedawir disaksikan semuanya di Trowulan, inilah kebangkitan Majapahit sesuai Ramalan dalam hal melaksanakan PANCASILA dan menjunjung keberagaman
  • Pusat Informasi Majapahit masa kini Jimbaran yang bisa dilihat nyata karyanya bukan dongeng
English Japanese Chinese Simplified Russian Arabic German Italian Dutch

Wednesday, March 24, 2010

PATUNG ITU FOTO LELUHUR

  


Suatu kejadian peristiwa yang terjadi di Trowulan sebagai pusat Kerajaan Majapahit yang akhirnya dikenal sebagai kawitan Pusat leluhur Majapahit yang adat dan budayanya lestari di Bali  (BIARPUN DIKLAIM HINDU YANG MUNCUL DAN BARU DI SAHKAN TAHUN 1961 ini terbukti didalam lontar-lontar  serta kitab-kitab masa Majapahit dan sebelumnya tidak ditemukannya istilah Hindu ataupun yang berbau Hindu India)  jadi oleh para sentananya baik yang masih memegang adat dan budaya leluhur sesuai dengan bunyi lontar "SIRA MPU KUTURAN INGARAN MPU RAJAKRETHA MAHYUNTA ANGGAWE PARAHYANGAN SANE KAGAWA WIT MAJAPAHIT KAUNGGAHAN RING BALI KABEH" Jadi untuk adat Majapahit dan pemahaman tentang adat dan budaya Majapahit bisa dilihat di Bali  prakteknya dan masyarakat Jawa yang keJawan atau Kejawen yang melaksanakan adat-adat dan mempraktekan budaya Majapahit (didalam kitab Negarakertagama belum dikenal istilah Hindu  yang baru diberi label/titel agama pada tahun 1961 tapi Majapahit Kasyaiwan dan Kasogatan atau dikenal Siwa Buda ritual keleluhur) tetapi untuk lebih mendetail penjelasan dari PUSAT INFORMASI MAJAPAHIT TROWULAN di Pura Majapahit Trowulan utara Kolam segaran Jl. Brawijaya Dara Jingga 13-16 tembus Sabda Palon no 06 yang memberikan kasunyatan pada kawula diseluruh Nusantara terutama kawula di Trowulan, bahwa PURA MAJAPAHIT TROWULAN itu melestarikan adat dan budaya leluhur Majapahit bukan agama yang dimport semua. Bahkan untuk di Trowulan sebagian besar masyarakatnya tidak mengerti dan menghargai adat dan budaya leluhur Majapahit. Seperti kasus di desa Temon hanya karena provokasi sang ketua yang mengerti adat dan budaya akhirnya membawa massa menjadi bodoh (Jahilliyah) dan masyarakat Trowulan tidak mengerti dengan filosofi budaya leluhur bahkan PURA MAJAPAHIT TROWULAN di larang berkegiatan dan ritual dalam bentuk apapun berdasarkan SKB dan perda kabupaten  Mojokerto tanpa alasan yang jelas dan tidak berdasar aneh tapi nyata.


Ketakutan para Dajjal kembalinya jati diri bangsa Nusantara. Untuk itu sentana (keturunan Majapahit di Trowulan), ingin memberikan penjelasan tentang ini dan siap untuk membuka mata hati dan mata batin bagi yang tidak kenal budaya Majapahit (Kejawen) dan kawula di Trowulan yang ingin tahu tentang adat dan budaya Majapahit.



Adalah Raden Hari Susanto, Raden Rahmat Arif Safi`i (Arik), Raden Khusaini, Raden Jawahir  (Ketju) , Raden Ayu Siti (Nyonya Ghofir), RM.Atarif (Umbar) yang sangat getol ingin memberikan pengetahuan ini supaya sebagian masyarakat Trowulan dan sekitarnya paham dan mengerti budaya dan filosofinya di Pura Majapahit Pusat Trowulan supaya tidak antipati dengan budayanya sendiri yang bukan import sehingga paham budaya sendiri dan tidak "ngepruki" peninggalan leluhurnya



  1. PATUNG ITU FOTO LELUHUR, pada masa Majapahit dahulu foto itu belum ada. Mr. Kodak belum lahir mister Handycam belum muncul. Jadi untuk mengabadikan leluhur maka dibuatlah foto yang terbuat dari batu yang dipahat berbentuk manusia yang disebut patung, juga dari tanah liat dan keramik yang cara pembuatan ilmunya dari Cina karena memang leluhur Majapahit itu memang manusia dan ini terbukti masyarakat Trowulan pada umumnya adalah pematung yang handal. Dan bukti lagi untuk sebagian orang Islam di Trowulan sangat tidak tahu dengan Patung atau Arca yang dipakai sentana (keturunan Majapahit) adalah Pratima atau patung peninggalan leluhur, bahkan ada yang menganggap patung itu berhala atau musyrik, padahal patung itu adalah foto leluhur pada jaman itu karena foto belum ditemukan.


  2. Sebenarnya tidak ada pebedaan antara Islam yang dianut sebagian masyarakat di Trowulan dengan adat budaya Majapahit (Kejawen). Kalau orang Islam di Trowulan meninggal otomatis dibuatkan makam dan diberi tanda berupa batu nisan (maesan atau patok kuburan), dan setiap hari jum`at legi disekar dengan kembang yang di adat Arab memang tidak mengenal budaya "nyekar". Jadi budaya nyekar adalah budaya asli Majapahit seperti yang dilakukan oleh Nurhidayati cucunya Mbah Ali yang berbakti pada leluhurnya pada setiap Jum`at legi  selalu nyekar ke makam leluhurnya dan  ke makam Troloyo, juga semua memakai budaya Kejawen. Makanya apabila ada orang Islam yang nyekar kekuburan disebut Islam Majapahit atau Islam kejawen maksudnya adalah orang Islam yang masih memakai adat Majapahit atau Kejawen adat asli yang tidak diimport, kenapa anti dengan Majapahit atau Pura Majapahit pimpinan Hyang Suryo seperti Karyono CS ?????. Juga adat lainnya seperti Tingkepan, bayi mudun lemah, ruwatan, metik pari nang sawah karena memakai cok bakal dan lain-lain yang dulu masih banyak disaksikan sekarang hampir atau sudah musnah karena sudah berganti dengan adat Arab yang tidak kenal Tingkepan, nyekar dan cok bakal serta lainnya. Itulah pemahaman ajaran Arab memberangus adat kejawen padahal sebagian masyrakat Trowulan masih memakai adat tersebut, ini realita nyata dan kasunyatan.


  3. Dan apabila untuk keturunan Majapahit leluhurnya meninggal itu dibakar atau diaben atau dikremasi atau dimokswakan akhirnya abunya dilarung ke Luat atau ke Sungai dan rohnya dibuatkan Kuburan atau rumah yang disebut Candi dan diberi "tetenger" atau tanda berupa patung atau foto yang juga direliefkan (hiasan dinding Candi). Jadi Candi adalah minangka tempat  atau makam leluhur yang pada hari Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon, nyekar leluhurnya adalah ke Candi .Contoh  Pura Majapahit Trowulan adalah tempat leluhur Majapahit di Candikan jadi tidak ada hubungannya dengan agama.

Inilah sedikit penjelasan dari kami tentang Pura Majapahit Trowulan dan kegiatannya tidak ada yang dirahasiakan. Untuk dipahami bagi yang tidak mengenal budaya Majapahit dan dilestarikan untuk generasi Nusantara sebagai jati diri bangsa terlihat dari luhurnya "tingginya" budaya bangsa itu sendiri. (R.Sisworo Gautama)


    Telusuri Selengkapnya...


    Tuesday, February 9, 2010

    RAJA MAJAPAHIT HIDUP 4 GENERASI

    Malam itu tidaklah begitu dingin (Soma Paing Kulawu 8-02-2010), udara berhembus sepoi-sepoi menerpa wajah seakan-akan membelai menina-bobokan yang masih sadar dengan keadaan, angin itu juga ingin menyampaikan satu informasi yang aneh namun sungguh nyata. Di Pura Ibu Majapahit setelah tiga hari  kedatangan Guruh Sukarno Putra, calon pemimpin Negeri masa depan yang berideologi Pancasila adalah bungsu salah satu tokoh pendiri Republik Indonesia yakni Bung Karno yang berjuang bersama Pahlawan lainnya untuk mengangkat martabat bangsa ini hingga mempunyai jati-diri yang sekarang sudah mulai musnah karena pemaksaan isme yang diimport dan pemonopolian agama yang berkuasa memberi "cap" lainnya kafir dan sesat serta memberi julukan kaum musyrikin untuk mengimbangi kaum muslimin sesuai hukum alam. Hingga detik ini mereka masih memberi "titel sampul D" contohnya di daerah Blitar sendiri, tempat kelahiran Bung Karno banyak masyarakat dulu ditumpas karena tidak ke Mesjid  dan  tidak memeluk Islam dengan tuduhan Komunis atau PKI. (1965-1966 berlanjut hingga detik ini). Inilah sejarah kelam bangsa ini yang di Arabisasi dengan isme Islamnya. dan ini terbukti adat-adat dan budaya Nusantara yang berbau animisme dan dinamisme serta multiisme ditumpas karena untuk menguasai Negeri yang subur makmur. Dan sekarang para penumpas disebut Pahlawan Alloh.





    Mata sudah mulai mengantuk, di Pendopo Puro / Keraton Ibu Mojopahit terlihat beberapa orang yang sibuk bercengkrama sambil berjaga (mekemit) yang memang menjadi tugasnya sebagai "Prajurit Keraton" serta "Abdi Dalem Keraton". Terdengar nyanyian alam berpadu dengan suara merdunya mahkluk Tuhan bernama Putih, Blontang, Iyeng dan lainnya yang mengonggong menemani para penjaga menunjukkan hubungan tanpa batas antar sesama mahkluk hidup.



    Tiba-tiba dari arah pintu gerbang Ganesha terdengar sapa seseorang dengan salam yang aneh tapi sudah biasa didengar "OM SWASTYASTU". Para penjaga menjawab salam tersebut dan mempersilahkan masuk tamu yang berjumlah dua orang yang masih muda berusia sekitar 30-an tahun . Setelah berbasa-basi sebentar akhirnya kedua orang itu duduk bersila didepan Candi Ibu Majapahit. Dengan dupa yang baru dinyalakan berdo`alah mereka dihadapan leluhur Majapahit. Entah berapa lama akhirnya selesailah ritual yang dijalaninya yakni menghaturkan bakti dihadapan leluhur. Selanjutnya terlihat mereka melangkah di depan Pagoda atau meru dan melakukan ritual yang sama hingga berakhir serta melanjutkan ke bawah Klenteng atau Gedong Pratima di mana Pusaka-pusaka Majapahit "dijejerkan".



    Setelah beberapa lama, akhirnya mereka kembali ke Pendopo dan menemui seseorang sekaligus bertanya," Kami mohon untuk "dilukat", kata mereka hampir berbarengan. Terdengar sahutan dari bibir seorang  laki-laki yang berambut gondrong, gimbal dan  berbadan kurus," Wah tiyang niki bukan orang yang bisa membersihkan diri seseorang, namun hanya membantu dan belajar melayani, seharusnya Anda sendirilah yang berinisiatif untuk melukat segala kekotoran diri", ujarnya sambil semyum simpul ramah. Dan tanpa banyak kata diambillah tirta ditempatkan dalam sangku dan dicampur kembang untuk prosesi acara mandi kembang. Terlihat kedua orang itu mengigil kedinginan dan merinding seperti merasakan sesuatu tatkala mantra terucap dari bibir yang sering dipanggil Panditha (mangku) tanpa diimpikan katanya, karena ini murni keinginan umat yang meresmikan menjadi Panditha. Apalagi orang tersebut mengaku tidak tahu apa-apa tapi sangat toleran dalam berkepribadian.



    "Bolehkah saya bertanya", kata anak muda itu yang agak berkulit kuning langsat dengan ramahnya menandakan punya tata kerama yang lumayan, kontras dengan temannya yang berkulit gelap agak sedikit "slengekan".



    Pemangku itu menjawab, "Silahkan !".

    "Apakah orang dalam foto yang memegang keris Nogo Sosro itu adalah Hyang Suryo Wilatikta", begitu tanya anak muda itu langsung untuk mencari tahu dari rasa penasarannya.

    Dengan sedikit menerapkan penerawangannya si Pemangku mengeryitkan dahinya untuk menganalisa keadaan yang sudah diprediksinya sekaligus mengantisipasi untuk apa orang ini bertanya seperti itu, karena seorang Ratu Satriyo Paningit itu tidak sembarang orang tahu. Karena Raja Majapahit Masa Kini ini sungguh sangat aneh, merakyat dan "TER", yakni TER Besar dan TER kecil.



    "Dalam foto itu di samping yang memegang keris Nogo Sosro memakai udeng merah adalah "Kompyang atau buyut"  saya", katanya lagi sambil berapi-api dan ingin jawaban yang pasti.



    Si Pemangku balik bertanya biarpun sudah tahu akan tamunya ini," Siapa nama Andika ini !".


    "Pekenalkan nama titiyang I Gusti Ngurah Agung Juliartawan saking Puri Anyar Tegal Badung Denpasar", jawabnya sambil memjabat seakan memohon untuk mendapat jawaban yang pasti.



    "Mungkin Andika salah orang", jawab sipemangku dengan cepat. "Tidak salah titiyang pernah melihat Beliau sewaktu masih kecil, wajahnya masih sama dan beliau dulu mengendarai mobil pickup", cerocosnya untuk dapatkan kepastian.



    Akhirnya karena ilmiahnya memang benar dan anak ini tidak membahayakan menurutnya maka si Pemangku inipun berkata,"Benar, itulah Hyang Brahmaraja XI Beliau sekarang sesuai tata-titi tata kerama seharusnya di panggil Hyang Wilatikta Brahmaraja XI bukan Hyang Suryo lagi. Saya ilmiahkan begini, nama kecil biasa dipanggil, tetapi aturan setelah di Abhiseka lain cara memanggilnya sesuai adat Majapahit yang adi luhung pada umumnya sudah banyak ditinggalkan karena sudah mengenal langsung Tuhan", jawabnya dengan sambil terus memandang mata anak muda itu seakan membaca pikirannya.



    Akhirnya Mas Ngurah Agung bercerita panjang lebar tentang kompangnya yang juga kakek buyutnya. "Titiyang niki kan punya Haji atau Aji atau Bapak, nah Aji tiyang niki punya Aji yang disebut Kakek atau Pekak, Kakek niki punya Aji dan beliau sudah "meraga sukma" dan sampun dilinggihkan. Nah ini buyut tyang yang berfoto dengan Hyang Brahmaraja disebelah kanan Beliau", katanya memastikan.



    Akhirnya terjawab sudah pertanyaan selama ini bahwa Raja Abhiseka Majapahit Masa Kini hidup dalam empat generasi. Mengapa beliau berusia panjang dan sehat ?. Karena mengikuti Hukum Tuhan, Hormatilah kedua orang tuamu dan leluhurmu supaya diberi usia yang panjang dan sehat. Ini adalah Hukum Tuhan dalam "Tens Comandemen of God" yang diajarkan Musa AS dalam perjalanan Hidupnya. dan sebagian besar penduduk Cina dengan leluhurnya.



    Pagi harinya setelah dikonfirmasi sama Hyang Brahmaraja XI memang benar adnya itu orang bernama Anak Agung Ngurah Sodara dan Beliau juga yang menyelamatkannya dari kudeta saudaranya sampai berdirinya Pura Majapahit Tegal yang pernah dicemarkan namanya oleh AA Manik Danendra S.H dalam berita di Bali Post 7-01-2010 yang sangat memalukan keluarga Puri Tegal dan Puri Anyar. Makanya si Ngurah Agung ini lama tidak pernah tangkil atau sowan ke Pura Tegal, dan Ngurah ini juga bercerita PELINGGIH yang terbakar dan pas odalan Banten diorat-arit sebelum dipuput, dan mungkin diselamatkan oleh leluhurnya supaya tidak terkontaminasi racun dari Manik Danendra ini yang mengaku Raja Pura Gunung Srawet Banyuwangi dengan menyingkirkan tuan rumahnya sekaligus menerapkan Adigang, Adigung lan Adiguna (baca beritanya disini)
    Telusuri Selengkapnya...


    Monday, January 18, 2010

    INDONESIA RAYA 3 STANSA

    Oleh W.R Soepratman




    Indonesia tanah yang suci, tanah kita yang sakti,
    di sanalah aku berdiri njaga ibu sejati,
    Indonesia tanah berseri, tanah yang yang aku sayangi,
    marilah kita berjanji, Indonesia abadi,
    slamatlah rakyatnya, slamatlah putranya, pulaunya,
    lautnya, semuanya,
    majulah negerinya, majulah pandunya,
    untuk Indonesia Raya,


    Indonesia tanah yang mulia,
    tanah kita yang kaya,
    di sanalah aku berdiri untuk selama-lamanya,
    Indonesia tanah pusaka, pusaka kita semuanya,
    marilah kita mendoa, Indonesia bahagia,
    suburlah tanahnya, suburlah jiwanya, bangsanya,
    rakyatnya semuanya,
    sadarlah hatinya, sadarlah budinya
    untuk Indonesia Raya


    Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku,
    di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku,
    Indonesia kebangsaanku, bangsa dan tanah airku,
    marilah kita berseru Indonesia bersatu,
    hiduplah tanahku, hiduplah negeriku,
    bangsaku, rakyatku semuanya,
    bangunlah jiwanya, bangunlah badannya,
    untuk Indonesia Raya
    Ref,
    Indonesia Raya, merdeka, merdeka,

    tanahku negeriku yang kucinta,
    Indonesia Raya, merdeka, merdeka,
    hiduplah Indonesia Raya
    Telusuri Selengkapnya...


    Sunday, January 3, 2010

    PURA/KERATON IBU KAWITAN MAJAPAHIT

    Bila ingin mengetahui sejarah dan perkembangan Pura Ibu Majapahit ada baiknya mengetahui lebih mendetail yang akan tertuang dalam tatanan dan fungsi dari;

    • Bangunan Palinggih untuk yang menjaga Pura/Keraton sekaligus tempat ber-Stana Dang Hyang Penjaga Nusantara berada di bawah pohon asam/punyan celagi. Disinilah yang pertama kalinya pemedek/umat meminta ijin masuk secara Sekala-Niskala untuk dapat mulai memasuki Pura/Keraton Ibu Majapahit.


    • Setelah itu memasuki Pintu Gerbang yang bernama Candi Wijaya Kusuma disambut oleh Arca Ganesha yang beratnya melebihi ukurannya dan setelah ketemu Simbol Surya Majapahit ada tempat Tirta penglukatan awal/ Pembersihan diri bilamana diluar mendapatkan hal-hal yang tidak menyenangkan. Nah dengan Tirta ini diharapkan diri menjadi bersih dari hal-hal yang tidak bagus.

    • Setelah berjalan beberapa langkah, terlihatlah Candi Siwa menjulang tinggi ke angkasa dan didepan Candi Ada tempat Tirta pembasuh dan disambut oleh Patih Gajah Mada yang masih muda menghunus keris memberikan semangat untuk generasi muda supaya mendapatkan kembali jiwa nasionalismenya dengan sebutan Bhayangkara Mada diatas prasasti KEBANGKITAN SIWA BUDHA yang ditanda-tangani oleh Raja Abhiseka Majapahit Masa Kini dan Raja Majapahit Bali Masa Kini atau Sentana Anglurah Bali (cocok untuk berdo`a tokoh muda pejuang Negara dan yang ingin bersemangat melanjutkan hidup serta kehidupan).

    • Didepan Candi Siwa Inilah semua persembahan seperti banten dan Pejati dihaturkan kepada beliau. Didepan Candi Siwa ini Anda-Anda semua boleh menumpahkan uneg-uneg, meluapkan emosi kerauhan dan mengharapkan beliau tedun untuk mebaos atau memberi petunjuk dan berdo`a memohon kerahayuan. Setelah uneg-uneg dalam diri kosong, jiwa sudah tenang barulah kaki menapak memasuki Candi Budha atau memasuki Klenteng/Gedong Pratima/Gedong Kimsin yang berstana Ratu Majapahit Nusantara, dengan catatan mematuhi Peraturan yang terpampang di depan tangga sebelah kanan.

    • Gedong Pratima/Klenteng ini satu-satunya yang bisa dimasuki hanya untuk berdoa dan menancapkan hio/dupa dengan persembahan yang tidak mengandung nyawa atau vegetarian. Jadi didalam Gedong ini atau Klenteng hanya untuk berdo`a sampai jam 22.00 WITA (10 MALAM) kecuali Purnama dan Tilem serta Hari besar lainnya setelah itu Anda dipersilahkan turun. Filosofinya Anda akan mendapatkan pengetahuan berisi adalah kosong, Kosong adalah berisi. Jadi memasuki Klenteng kosongkan pemikiran Anda, Kosongkan supaya terisi nantinya. Untuk meditasi dan lain sebagainya silahkan dibawah ada tempat yang tersedia. Naik melalui tangga ibarat menjalani kebaikan perlu naik ketingkatan-tingkatan yang lebih tinggi. Turun disarankan ambillah tangga yang berbeda. Dibawah Klenteng terdapat Ruangan untuk menyimpan pusaka Majapahit atau museum dan untuk umum serta masuk Gratis lagi

    • Di Sebelah Gedong Pratima terdapat Bangunan Pelinggih menjulang tinggi dan tertinggi satu-satunya di Nusantara dan yang masih bisa diupacarai bernama Meru Tumpang sebelas atau Pagoda. Bangunan ini pernah diutarakan oleh Raja Banten melalui telepon supaya jangan sembarangan dimasuki. Padahal sang Raja ini belum tahu langsung atau datang ke Bali. Disini disimbolkan Pagoda diangkat oleh Kura-Kura, juga terdapat berstananya Dewa Bumi. Banyak filosofi yang bisa diambil berdo`a dan berfilosofi cerdas untuk mengejar ketinggalan Globalisasi.

    • Disebelah Pagoda terdapat bangunan segi delapan bernama Candi Avalokitesvara dan disebelah Candi Ciwa (Candi Majapahit) terdapat Candi Ibu Gayatri yang dalam kitab Negara Kerthagama baru sedang dibangun. Dan Candi Gayatri terdapat didaerah Tulung-Agung Jawa Timur masuk kawasan Keraton Majapahit Jenggala, tetapi keadaannya sudah parah dirusak oleh Santri Demak pimpinan R.Patah dan Sunan-sunan. Sehingga Candi ini di Pindahkan ke dalam Keraton Ibu Majapahit Bali.

    • Bangunan berbentuk Pendopo ini dalam bahasa Nagarinya disebut AN tempat berkumpulnya para ksatrya Majapahit disamping itu juga nyejerang Pusaka-Pusaka Majapahit. Disini aktivitas sangat ramai, ada yang berkonsultasi masalah sepritual, bisnis, meditasi, ramal-meramal, ruwatan, semua aktivitas tanpa batas disini. Juga terdapat Tempat menginap orang-orang suci atau tamu Agung bernama KWAN dibelakang Pagoda atau meru tumpang sebelas. Dan Pusat Informasi (TING) tentang perjuangan dari Hyang Batara Agung Sri Wilatikta Brahmaraja XI, Narendra Utama berjuang untuk Nusantara. Ada juga bale gong dan Kulkul. Ini adalah kebanggaan dan ciri khas Majapahit, Kawula semuanya terangkat harkat dan martabat serta punya jadi diri sebagai bangsa. Dan semua umat tanpa melihat SARA berhak datang dan berdo`a di kawitan Nusantara. Didepan leluhur semua sama tanpa melihat status (kasta) dan wangsa (keturunan) dan agamanya yang masih import semua serta.berlandaskan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Atau disebut PURA PANCASILA. Inilah Gambaran Candi Siwa Budha Majapahit pemersatu. Untuk Kawitan Purusha Jawa Bali Stananya Prabu Airlangga (Raka Halu Sri Lokesvara Darmawangsa Airlangga Nanta Wikrama Tungga Dewa) terdapat di PURA MAJAPAHIT GWK masuk desa Ungasan (+/- 2 km dari Pura Ibu Majapahit) wilayah Kuta Selatan Kabupaten Badung Propinsi Bali.

    • Pintu Gerbang Ganesha adalah untuk mendapatkan kepandaian. Jadi tidak lagi “di Sirna Ilangkan di Kertaning Bumi”. Selanjutnya ada juga bangunan khusus membuang penyakit.


    • Itulah sedikit gambaran tentang Keraton Ibu Majapahit dan perkembangannya diabad-21 MASA KINI
    Telusuri Selengkapnya...


    Monday, December 7, 2009

    MAJAPAHIT NUSANTARA MASA KINI

    Nuswantara atau Nusantara yang sedang berkembang sekarang ini sudah diprediksi limaratus tahun yang lalu oleh para leluhur negeri ini yakni sejak Majapahit disirnakan sejarahnya hingga menjadi "Sirna ilang kertaning Bumi". Padahal Majapahit itu masih ada.





    Pada masanya Nusantara Majapahit dikenal dengan Gemah Ripah loh Jinawi hingga sebagian generasi rakyat Indonesia melupakannya, kalau memang semua sejarah itu tidak ada, berarti tidak ada sejarah menyatukan Nusantara hingga membuat makmur Rakyatnya yang sama-sama berotonom baik khusus maupun otonom lainnya.





    Sejarah ini berawal dari penyerangan Demak entah itu bukti atau tidak, Majapahit runtuh diawali dari R.Patah menyerang Majapahit Trowulan hanya diawali dari Trowulan dibantu oleh para wali atau sunan ini tertuang di Babad Kadiri ditulis oleh Mpu Tan Khoen Swie dan diakui sebagai sejarahnya kota Kediri. Didalam babad ditulis bagaimana Majapahit Trowulan diserang oleh Demak dan bagaimana Sunan Bonang dan lainnya memaksakan kehendaknya di bumi Majapahit Trowulan.

    Setelah itu Nusantara mengalami perubahan masa dalam penjajahan oleh bangsa Eropa yang awalnya sama dengan Pedagang dari Arab dan Gujarat India.

    Pedagang Arab awalnya berdagang tetapi lambat laun karena melihat rakyat Majapahit Nusantara sangat lugu, polos dan jujur akhirnya mereka ingin mengibuli. ingin memonopoli dan ingin menjajah dalam segala hal termasuk adat dan budaya Nusantara menjadi adat dan budaya Arab.





    Hingga menyingkirkan juga pedagang Gujarat India (aliran sekarang yang dianut sebagian rakyat ini yakni aliran Ahmadiyah mengikuti Gurlam Singh sebagai nabinya atau yang mengenalkannya). Kenapa mereka disebut pedagang disini, karena memang awalnya Orang Arab itu memang berdagang dan masuk Nusantara tahun hanya untuk berdagang tetapi setelah Abad ke-15 menancapkan ajaran dari Arab hingga menjajah dan membuat kawula di Nusantara menjadi perang saudara karena berbeda akidah atau keyakinan hingga Nusantara Majapahit terpecah-pecah.



    Melihat Nusantara Majapahit terpecah-pecah dan suplai rempah yang diekspor ke Eropa dan lainnya terganggu, membuat bangsa Eropa ingin mencari Negara pemasok rempah-rempah mencari Negara Kerajaan Nasional Majapahit (hanya inilah kebanggaan untuk Nusantara sekarang).



    Bangsa Eropa juga demikian, masuk di Nusantara juga sesuai dengan Ramalan leluhur, setelah rakyat berbeda pandangan dalam keyakinan  hingga membuat perang saudara di mana-mana, membuat bangsa Eropa juga ingin menjajah sekaligus menyelamatkan cagar budaya dari rakyat yang sudah teracuni pandangan adat dari Arab. Ini dibuktikan hukum-hukum penyelamatan Cagar budaya berasal dari keprihatinan bangsa Belanda dan menyelamatkan sebagian besar peninggalan Majapahit ke Negaranya (tersimpan di musium leiden) dan bercokol sangat lama hingga empat generasi. Jadi Islam Demak mewakili sejarah yang meruntuhkan Majapahit dengan menyerang Trowulan jadi hanya Trowulan (Kerajaan Arab di Nusantara hanya bercokol 73 tahun). Sempat juga pedagang India (Aliran sungai Sindu yang sekarang pemerintah mengasih label Hindu di Indonesia 1961) bercokol selama tiga tahun . Kerajaan Belanda (Keristen sekitar 350 tahun). Semua itu menutupi sejarah Siwa Buda Majapahit yang bisa menyatukan Nusantara dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika-nya.



    INI FAKTA YANG TERUNGKAP

    Masyarakat sekarang cenderung anarkis, kemiskinan meraja-lela hingga hukum ditegakkan hanya untuk rakyat kecil dan miskin serta buta hukum. Padahal dahulu bangsa ini terkenal dengan Gemah Ripah Loh Jinawi Tentrem Kerta Raharja serta Nusantara menjadi mercusuar Dunia. Bercermin dari Bali yang melestarikan adat dan budaya leluhurnya yang nota bene dari masa Majapahit ini terbukti apa yang dilakukan masyarakat di Bali prakteknya adalah Siwa Budha Majapahit biarpun diberi titel Hindu 1961 oleh pemerintah dalam tanda kutip Menteri Agama yang mewakili Arab. Masyarakat Bali tetap berkeyakian ke Leluhur dulu dengan mempersembahkan dan melestarikannya seperti Odalan, ngenteg linggih,mecaru dan lain sebagainya hingga dunia mengaguminya sebagai Majapahit kecil tapi besar. Mengapa ?.



    Karena semua Pura-pura atau dalam hukum Belanda diakui sebagai keraton-keraton dari Anglurah pejabat setingkat Gubernur dalam pemerintahan Majapahit, atau kawitan Majapahit yang lari ke Bali dengan selamat sedangkan yang tertinggal di Jawa dibantai dan dicap kafir, sesat, komunis (1965) dan lain sebagainya supaya mudah untuk di bantainya (kutipan buku Tan Khoen Swie). Dan ini masih berlangsung hingga sekarang.



    Masyarakat sekarang sangat memuja barang-barang import seperti baju bekas atau baju eks import (Baldress) juga keyakinan, adat serta budaya yang berbau import masyarakat sekarang sangat memujanya.



    Budaya senang konflik, budaya kekerasan serta tawuran juga mudah di import oleh kebanyakan masyarakat sekarang termasuk budaya ingin maunya sendiri dengan menutup dan menyegel PURO MOJOPAHIT TROWULAN dengan alasan yang tidak jelas hanya menghimbau melarang berkegiatan dan ritual dalam bentuk apapun. didukung oleh pemerintahan Indonesia oleh lembaganya untuk menyenangkan Arab. Padahal PURA MAJAPAHIT melestarikan budaya dan sangat menerapkan Pancasila dan ke Bhinnekaan ini terbukti dan terlihat dari dokumen yang sudah ada (dokumentasi).



    Orang kebanyakan sekarang itu senang berbicara tanpa melihat kenyataannya. Untuk itu dihimbau lihatlah kenyataannya dulu. Sebutan Tuhan Allohu Akbar...Allohu Akbar yang suci sekarang hanya dipakai untuk menggertak atau menakuti serta bersumpah supaya yang lainnya percaya dan menganggap orang beragama import. Unjuk rasa dan demo bukan lagi mencerminkan kepentingan Indonesia tetapi sudah seperti kepentingan Arab. Bangsa ini sudah menjadi bangsa Arab mundur 1000 tahun yang lalu yang lalu terkenal dengan jaman jahilliyah atau jaman kebodohan. Justru yang lebih bodoh dari orang Arabnya sendiri hingga siap mati demi adat dan budaya serta sareat Arab. Lihatlah simbol-simbol atau bendera yang dipakai mencerminkan simbol Arab, termasuk kata-kata yang dilontarkan dalam unjuk rasa untuk menggertak lainnya berpedoman semua menjadi Arab seperti gambar diatas. Silahkan direnungi sendiri bagi yang ingin merenunginya, semua sudah berbau Arab.

    Lha Indonesianya mana ? Semoga masih ada !.



    Semoga ini sebagai gambaran kembalinya Masyarakat Nusantara menjadi berbudi luhur serta penuh kedamaian. Ajaran Siwa Buda menerapkan berbudi luhur yang tinggi, menghargai nasehat leluhurnya mewakili orang tua hingga semua bisa mengenal Tuhan. Bahasa mudahnya (leluhur Purusa) Siwanya berkata ayo kerja...ayo berkarya...ayo lestarikan adat dan budayanya...ayo odalan...ayo mecaru. Budhanya (leluhur Predana) berkata "Amitabha" semua mahkluk berbahagia.

    Telusuri Selengkapnya...


    Monday, November 2, 2009

    MAJAPAHIT, PIS BOLONG DAN BALI BERHUBUNGAN



    Uang Kepeng China di Bali masih dipakai Odalan, Bahkan Para Balian Bali bila meramal seseorang membacanya dari Uang Kepeng ini secara kerauhan, Tanggal 1-11-2009 jam 17.00 wita Pratima Prabu Airlangga dipendak dan diiring ke Pura Majapahit GWK, malamnya hujan lebat mengguyur Jimbaran dan Ungasan wilayah GWK, Hari ini Pagi yang cerah berkumpul di Pendopo Pura Ibu Jimbaran, Mangku Nokoprawiro, Kadek Moyo, Ko Hin, Andik,dll Hyang Suryo mengeluarkan beberapa biji Uang kepeng / China untuk dibacakan artinya kepada Ahli Tulisan China Mbah Lie Hong Tjie, dimana Tulisan Uang Kepeng ini dijelaskan, biarpun hanya "Empat Huruf" tapi dapat diketahui Jaman, Raja yang berkuasa, kapan Uang ini dibuat contoh Cien Lung Thung Pao, dimana uang ini dibuat Pada masa pemerintahan Raja Cien Lung dinasti Ching  1736-1795 M , Jadi empat Huruf pada Uang China ini cukup bisa menjelaskan secara detail riwayat Uang Kepeng itu sendiri, Bahkan menurut Kadek Moyo Balian/Dasaran Bali bila meramal juga menggunakan Uang Kepeng, dan secara Kerauhan bisa menceritakan Riwayat seseorang dan tentunya disertai Sesaji,





    Di suasana sangat segar dan adem, tanah masih basah karena malamnya habis hujan yang sebelumnya Bumi Majapahit Bali sangat panas merangas dan hujan ini memang pertanda menyambut Odalan Prabu Airlangga di GWK sebagai titisan Batara Visnu (Air, tirta) pada hari ini dalam kalender Bali Majapahit jatuh pada Brahma Purnama kalima.



    Kisah sejarah ini diawali Mbah Lie Hong Tjie menulis dengan tangan yang keriput karena usia, tapi sangat berapi-api menceritakan tanpa gemetaran serta menterjemahkan secara gamblang. Kalimat pertama yang dijelaskan tentang uang kepeng itu mempunyai hubungan dengan sejarah Majapahit yang sudah banyak dilupakan oleh bangsa ini. Uang bolong ini bisa mengungkap sejarah tanpa di rekayasa. Hubungan antara Majapahit, Odalan dan uang bolong bisa dideteksi hanya dari satu uang kepeng yang tulisannya sudah disalin di lontar modern. Salah satunya kutipannya mengatakan, silahkan didiskusikan banner disamping kiri untuk para pakar !.

    Mbah Lie Hong Tjie juga menceritakan makna sebuah tulisan/aksara China yang banyak mengandung banyak kisah filosofi untuk sejarah kebudayaan bangsa. Pantas saja aksara/tulisan China dilarang pada masa Orba karena mereka akan mengetahui sejarah bangsa sendiri dan akan membanggakan kebudayaan bangsa sendiri hingga tidak mudah dikibuli oleh yang sekarang mengibuli dengan sejarah dari bangsa arab,israel hingga rakyat ini menjadi tidak memahami sejarah bangsa sendiri...nasib apes dan ironis.



    Justru moment odalan di Bali sangat memakai adat dan budaya leluhur salah satu yang membuat sempurna adalah uang kepeng/pis bolong yang juga pada jaman Majapahit uang ini dipakai untuk mempersatukan Nusantara dan ini bukti juga apablia ahli arkeologi maupun masyarakat umum menemukan barang peninggalan pasti ditemukan uang bolong ini. Tidak sahlah Upacara tanpa uang bolong.







    Telusuri Selengkapnya...


    Thursday, October 22, 2009

    MAKNA DI BALIK KITAB BHAGAWAD GITA TERBESAR

    Pukul 16.00 Wita (bagian Denpasar selatan) tanggal 21 Oktober 2009 bertepatan dengan Pujawali Bathara Wisnu manifestasi Prabu Airlangga Kawitan Jawa-Bali yang akan Odalan tanggal 02 November 2009;



    Jalan Raya by pass Nusa 2 tidak begitu ramai pada siang menjelang sore hari itu, panaspun tidak seberapa menyengat kulit, Kami meluncur ke Nusa Dua di musium Pasifika yang tengah memamerkan Buku Kitab Bhagawad Gita terbesar di Dunia. Musium ini sebenarnya tidaklah sulit dicari, setelah tanya sana-sini kami dipersilahkan oleh satuan petugas keamanan untuk masuk. Kami sebenarnya mengantar tamu paling VVIP  dengan santai dan rilex yakni Abhiseka Raja Majapahit ke-9 Hyang Bathara Sri Wilatikta Brahmaraja XI untuk memberikan "TAKSU".





    Setelah beberapa langkah berjalan memasuki Pintu masuk, kami di Sambut Presiden World Hindu Youth Organisation (WHYO) sekaligus Dokter dan Rektor termuda  serta terpandai versi Muri sekaligus Dunia yakni DR. I Gusti Ngurah Arya Vedakarna MWS III  juga sudah diangkat sebagai Raja Bali (meneruskan sejarah yang tertunda dan diobok-obok oleh dajjal yang memfitah) yang pada hari ini telah menciptakan MURI untuk yang kesekian kalinya. Satu kebanggaan di Bumi Nusantara khususnya Bumi Majapahit Bali untuk mengimbangi berita-berita yang memalukan disiarkan media elektronik maupun cetak yakni Indonesia sarang teroris, yang dilakukan oleh para Dajjal juga krisis multidimensi lainnya. Setelah Sang rektor Muda bersalaman menjabat tangan Raja Majapahit. Akhirnya mengajak untuk melihat-lihat Buku Kitab seberat kurang lebih satu tons dengan panjang 1,5 meter dam lebar 1,25 meter ditaruh disebuah kerangka besi berhias altar didepannya yang berisi banten, serta tirta suci. Sang Raja dimohon untuk memberikan restu dan menaksu supaya mendapatkan anugerah dari Para leluhur dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Dengan di tepok-tepok dirasa cukup sebagai pemberian "restu" disaksikan para undangan yang hadir tak terhitung jumlahnya.



    Para Undangan ini sudah hadir sebelumnya hingga kami dipersilahkan duduk ditempat yang telah disediakan, di sini disambut oleh Direktur Utama PT Bali Tourism Development Corporation (BTDC) yang memprakarsai Nusa Dua Fiesta (NDF) ke-13 yaitu Bapak Ir.I Made Mandra dari Ubud Gianyar trah kawitan pretisentana Bendesa Manik Mas di Taman Pule yang mana Para leluhurnya adalah Sapta panak Rsi dari Majapahit  Jawa (Nama-nama ini sesuai pada masa Majapahit Bali sebelum generasi sekarang yang minter-minteri). Akhirnya juga berbincang santai dengan Bendesa pekraman Nusa Dua dan lainnya sampai acara dimulai. Sambutan demi sambutan di sampaikan oleh para sesepuh dan tokoh yang intinya mengatakan semua adat dan budaya di Bali dilestarikan oleh para leluhur sejak jaman Majapahit dahulu hingga sekarang, hingga bisa membikin kesejahteraan Masyarakat Bali pada umumnya, "Sang Raja manggut-mangut  pelan mendengarkan uraian pidato singkat dari panitia sekaligus pengagas acara ini". Acara di tutup dengan do`a oleh Pemangku hindu dan pendeta Majapahit untuk memohonkan ma`af bila terjadi kekurang-sempurnaan dalam ber-Yadnya dan berkarya di Dunia.



    Acara dilanjutkan menuju tempat NDF di pinggir pantai yang indah dikelilingi hotel berbintang. Para Undangan, masyarakat, para Touris domestik maupun manca negara berbaur menjadi satu tanpa batas untuk bersama-sama menyaksikan penghargaan MURI yang kesempatan itu di wakili oleh Senior Manajernya bernama Paulus Pangka kepada Presiden WHYO DR. Wedakarna dengan Ir Made Mandra dengan nomor sertifikat unik yakni 3939. Selanjutnya isi dari kitab Bhagawad Gita di terjemahkan dalam sendra tari yang pada malam hari itu memukau seluruh penonton. Sejarah itu terulang  kembali, Kisah  Maha Bharata Kesatriya Arjuna juga terulang di abad-21;

    "Di kisahkan di negara Amarta, bala korawa (Dajjal) telah mengambil alih dengan memaksa, menjajah dan menginjak harkat dan martabat Para Pandawa yang masih bersaudara. Tanah air Para Pandawa yang dulu damai, hijau, gemah ripah loh jinawi menjadi porak poranda dengan ulah si korawa ini, hukum keadilan dan kemanusiaan dimusnakan, Tri Hita Karana ditinggalkan hingga rusaklah bumi Tanah Air Amerta ini. Para Pandawa sudah banyak melakukan negoisasi, berunding untuk bala korawa supaya tidak serakah dan berbuat kehancuran di Bumi Amerta serta meminta Haknya kembali, karena memang Para Pandawa yang berhak berdiam di Tanah Airnya sendiri (Para Korawa ini bernafsu ingin menguasai Amerta dengan taktik apapun).

    Perundingan-perundingan ini terus mengalami jalan buntu hingga akhirnya diputuskanlah untuk merebut Tanah Air yang di kuasai oleh Korawa. Pada kisah itu disebutkan Sri Kresna datang dengan tiba-tiba ingin menyampaikan lagi negoisasi pada Duryudana sebagai pimpinan Korawa. Bukan sambutan baik yang didapat malah cacian dan ingin perang tanding, sebagai masih satu saudara Sang Kresna titisan Dewa Wisnu dengan sabar tetap menjelaskan pentingnya persaudaraan. Tapi memang Duryudana sangat angkuh dan sombong serta ingin maunya sendiri mencaplok, serta memaksakan kehendak dan supaya keyakinannya diikuti menolak sikap baik para Pandawa. Hingga dikerahkankanlah para raksasa (Dajjal, Teroris bomber untuk membikin kekacauan). Para Pandawa berunding untuk perang secara Ksatrya, tapi nampaknya Arjuna Ragu dan bimbang karena yang dihadapi adalah kakek gurunya, Sri Kresna akhirnya memberikan petunjuk dan siap sabagai saisnya (menyopiri Arjuna). Sri Kresna ini memberikan bukti bahwa apa yang akan dilakukan oleh Arjuna adalah untuk kebenaran membela Tanah Airnya dan harkat serta martabat bangsa. Keragu-raguan Arjuna sangat beralasan karena musuhnya adalah saudara sendiri, tapi setelah melihat dan merasakan penindasan Korawa tergerak hatinya untuk menghentikan keserakahan dimuka bumi setelah Sri Kresna menjadi Durga bertangan seribu hingga membuat kocar-kacir para raksasa (Dajjal ini). Takdir mengatakan kebenaran tetap kebenaran tapi bukan ingin yang paling benar. Setelah sampai di Padang Kuru Setra terjadilah perang secara Ksatriya Pandawa di wakili oleh Arjuna sais oleh Kresna sendiri (Visnu) dan Bala Korawa. Tanpa keragu-raguan sama sekali Arjuna perang dengan Korawa dan dimenangkan Pandawa hingga membuat Dunia kembali aman" (lebih detail silahkan baca Bhagawad Gita mudah-mudahan anda mendapat pencerahan)

     Acara malam itu tambah meriah, hiburan rakyat disaksikan berbagai lapisan masyarakat Dunia karena Bali memang sangat menghargai budaya leluhur tidak seperti di luar Bali ( mungkin tidak semaunya) Yang berbau budaya di tentang oleh tokoh atau pemuka Islam yang punya pemikiran seakan-akan mereka hidup bukan Di Indonesia. Budaya-budaya Nusantara bisa dipastikan tidak sesuai dengan Qur`an dan hadist seperti Odalan, mecaru ruwat desa dan lain-lainnya. (Aneh dan Ironis). Adapun yang tetap melaksanakan akan di Cap PKI padahal partai pertama yang berani sebutkan Indonesia (1924) dan PNI (1925) contoh Ki Hajar Dewantara   menyebutnya saja dengan INDONESISCHE PERS..Entah PKI atau komunis yang akal-akalannya para dajjal ini di Era ORBA semua itu terjawab di era Reformasi yang masih jauh dari Reformasi hanya rekayasa untuk memusnahkan orang yang tidak sepaham, tidak ke masjid dan memusnahkan Suku tertentu Ras tertentu, makanya semua mengatakan jangan bicara SARA.





    Di masa sekarang, kami juga memaknai Sri Kresna adalah Sri Wilatikta Brahmaraja XI yang sebagai sais untuk Arjuna yakni Dr Wedakarna yang sempat mengalami kritikan dan halangan untuk berjuang demi Tanah Air adat, sejarah dan budaya. Dan berjuang itu memang harus ada yang mengkritik, biar tidak tulah inilah penjelasannya. Dengan mengiring Ibu Durga Mahendradatta Ibunda dari KAWITAN Jawa-Bali Prabu Airlangga (Wisnu) dan mengupacarai (Odalan) maka sahlah cerita MAHA BHARATA di abad-21. Anda tunggu gebrakan dari sang Arjuna yang tampan ini untuk Nusantara ....

    Telusuri Selengkapnya...


     
    2010